Begitu banyak orang yang ingin
menjadi sepertimu. Mereka mungkin tidak pernah memahami hidupmu, hanya
melihat bagian menyenangkannya saja. Tidak pernah mengetahui masa lalumu
bahkan kekhawatiranmu tentang masa depan.
Mereka takjub dengan segenap pencapaianmu saat kamu merasa semua itu terasa biasa saja dan kosong. Mereka ingin mencapai apa yang kamu capai. Kamu sendiri tidak mengerti bagaimana semua itu bisa menjadi milikmu sementara orang lain begitu keras berjuang untuk itu. Kamu mendapatkan dengan mudah.
Kamu tidak mendambakan ketenaran sementara orang lain mengharapkan itu. Rasanya hidupmu begitu menakjubkan karena kamu sedang menjalani impian begitu banyak orang. Hingga kamu menyadari betapa kosongnya hidupmu, betapa sepinya malam harimu, betapa meresahkannya hati dan pikiranmu. Sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain,
Tulus
Menilai Orang
Kalau kamu sudah bangun dan membaca tulisan ini. Ada satu hal menarik di dunia ini yang mungkin perlu kamu ketahui. Bahwa mungkin seseorang yang datang ke dalam hidupmu nanti bukanlah orang yang baik. Baik dalam arti yang sebenarnya. Ada bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya yang telah menjadi masa lalu. Pun setiap orang merasa ingin mengubur masa lalunya. Ia ingin berbagi denganmu. Mengawali sesuatu dengan kejujuran, bukan kebohongan.
Mungkin ia baru saja beranjak setelah sekian tahun bergelut dengan dirinya sendiri. Bertanya ke sana kemari hanya untuk mengetahui apakah Tuhan itu masih mungkin mengampuninya atau tidak. Dan rasa khawatir atas pengampunan itu senantiasa menyertai langkah kakinya. Hidupnya kini sangat hati-hati.
Ia mungkin bukan orang baik. Tidak sebaik sebagaimana pengetahuanmu tentangnya selama ini. Ia akan datang menjadi ujian bagimu. Ia tidak berharap diterima, tapi ia senantiasa mengusahakanmu. Ia bahkan sudah bersyukur karena mengenalmu membuatnya berusaha menjadi lebih baik. Ia sudah ikhlas dengan keputusanmu bahkan sebelum dia mengutarakan keinginannya.
Andai kamu berada di posisi hidupnya. Bagaimana perasaanmu?
Mensyukuri Hari Ini
Versi Terbaik dari Dirimu Sendiri
Sudah Sejauh Ini Melangkah
Tunggulah
Mereka takjub dengan segenap pencapaianmu saat kamu merasa semua itu terasa biasa saja dan kosong. Mereka ingin mencapai apa yang kamu capai. Kamu sendiri tidak mengerti bagaimana semua itu bisa menjadi milikmu sementara orang lain begitu keras berjuang untuk itu. Kamu mendapatkan dengan mudah.
Kamu tidak mendambakan ketenaran sementara orang lain mengharapkan itu. Rasanya hidupmu begitu menakjubkan karena kamu sedang menjalani impian begitu banyak orang. Hingga kamu menyadari betapa kosongnya hidupmu, betapa sepinya malam harimu, betapa meresahkannya hati dan pikiranmu. Sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain,
Tulus
Menjalani apapun dengan tulus. Menjadi yang terbaik dalam setiap fase hidup yang dilalui. Ujian pasti ada, kekecawaan mungkin datang, dan kebahagiaan pun sudah dipersiapkan. Jalani dengan tulus. Tidak peduli akan harap untuk dibalas.
Tidak semua hal bisa kita dapatkan, ada yang harus kita ikhlaskan. Disaat itulah kita belajar tentang merelakan sesuatu, bukan karena kita tidak mau memperjuangkan. Tapi karena hal itu memang tidak untuk kita.
Ada juga hal yang patut kita perjuangkan, sesuatu yang amat berharga. Sesuatu yang sangat penting. Hal yang belum menjadi kepunyaan kita hari ini, ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Perjuangkan sesuatu yang memang berharga, karena kita akan membayar perjuangan itu dengan waktu, tenaga, pikiran, doa-doa kita, dan kita bersiap pada setiap konsekuensi besar yang menyertai.
Apapun yang sedang kita jalani, jalanilah dengan tulus. Biar tidak ada kekecewaan karena tidak sampainya harapan, biar tidak terlalu bahagia berlebihan karena kita tahu ada orang yang tidak seberuntung kita hari ini.
Semoga Allah masih menjadi yang pertama. Terima kasih karena selalu mengingatkanku tentang hal ini.
Menilai Orang
Ada beberapa cara menilai orang lain. Meski kita diajarkan untuk tidak menilai orang lain, tapi kali ini aku ingin mengajarkannya. Mengajarkan bagaimana menilai orang lain agar kita bisa memahaminya secara menyeluruh, tidak hanya sepotong-potong. Kita hanya tidak boleh menghakimi, tapi kita perlu belajar memahami orang lain. Berikut adalah salah sedikit cara bagaimana kita bisa memahami karakter orang tersebut.
Pertama, lihat siapa teman-teman dalam lingkungan sosialnya. Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap dirinya. Kita akan lebih mudah memahami orang lain melalui teman-temannya tersebut.
Kedua, apa/siapa yang paling mendominasi hatinya. Hati itu adalah salah satu bagian dari manusia yang paling labil, tapi hati punya porsi yang dominan dan tidak. Maka rasakanlah apa yang paling dominan di hatinya. Apakah Allah dan rasulnya, apakah nama seseorang, apakah harta kekayaan. Kamu bisa merasakan ini, karena apa yang mendominasi hati akan berubah menjadi tindakan dan perilaku.
Ketiga, bagaimana dia membelanjakan uangnya. Kita bisa melihat karakter seseorang dengan mengetahui kemana uangnya dia belanjakan. Sekilas ini hal yang sangat materialistik, tapi justru itulah realita hari ini. Dimana materi akan menjadi ujian berat bagi manusia dan cara pandang seseorang terhadap materi ini tercermin dari bagaimana dia membelanjakan uang.
Keempat, lihat bagaimana interaksinya dengan orang tua dan anak-anak. Karena kehalusan budi pekerti itu diuji dengan interaksi terhadap orang lain. Dan interaksi paling sulit bukanlah dengan teman sebaya, tapi dengan orang tua dan anak-anak. Karena anak-anak mengajarkan tentang kejujuran dan orang tua mengajarkan tentang kehalusan budi.
Kelima, apa yang dia baca. Bacaan seseorang akan mendominasi cara berpikirnya. Ketahuilah apa yang menjadi santapan pikirannya itu. Apakah dia rajin menyantap buku atau tidak akan memberikan dampak yang berbeda terhadap kapasitas ilmu pengetahuannya. Pemikirannya terbentuk dari apa-apa yang dia baca.
Masih begitu banyak cara kita mengetahui bagaimana orang lain. Selamat membaca, bahwa manusia itu layaknya buku. Sebab hidup mereka adalah cerita yang bisa kita baca meski tidak dimulai dari halaman pertama. Selamat membaca, cerita yang akan terus tercipta setiap harinya. Dan masing-masing manusia adalah buku dengan tema yang berbeda. Selamat menyelami.
Kalau kamu sudah bangun dan membaca tulisan ini. Ada satu hal menarik di dunia ini yang mungkin perlu kamu ketahui. Bahwa mungkin seseorang yang datang ke dalam hidupmu nanti bukanlah orang yang baik. Baik dalam arti yang sebenarnya. Ada bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya yang telah menjadi masa lalu. Pun setiap orang merasa ingin mengubur masa lalunya. Ia ingin berbagi denganmu. Mengawali sesuatu dengan kejujuran, bukan kebohongan.
Mungkin ia baru saja beranjak setelah sekian tahun bergelut dengan dirinya sendiri. Bertanya ke sana kemari hanya untuk mengetahui apakah Tuhan itu masih mungkin mengampuninya atau tidak. Dan rasa khawatir atas pengampunan itu senantiasa menyertai langkah kakinya. Hidupnya kini sangat hati-hati.
Ia mungkin bukan orang baik. Tidak sebaik sebagaimana pengetahuanmu tentangnya selama ini. Ia akan datang menjadi ujian bagimu. Ia tidak berharap diterima, tapi ia senantiasa mengusahakanmu. Ia bahkan sudah bersyukur karena mengenalmu membuatnya berusaha menjadi lebih baik. Ia sudah ikhlas dengan keputusanmu bahkan sebelum dia mengutarakan keinginannya.
Andai kamu berada di posisi hidupnya. Bagaimana perasaanmu?
Mensyukuri Hari Ini
Kata Pidi Baiq,”Masa depan itu tidak ada, buktinya kita selalu ada di hari ini.”
Antara setuju dan tidak, kenyataannya kita tidak pernah hidup di masa depan. Kita selalu hidup di hari ini. Hari yang sedang kita jalani entah apapun kondisi hari ini.
Maka, mari syukuri hari ini. Masa depan yang kita gadang-gadang dengan jutaan impian, sejatinya adalah hari ini. Masa depan yang kita impikan adalah hari ini. Bagaimana kita menjadikan hari-hari esok yang lebih baik kondisinya bergantung pada apa yang sedang kita lakukan hari ini.
Kita tidak perlu berharap keajaiban. Pun pertolongan Tuhan itu akan datang ketika kita telah sampai pada batas usaha kita. Kita harus mengusahakan lebih dulu dan apa yang kita kira sebuah keajabaikan adalah ganjaran atas apa yang pernah kita usahakan. Karena hasil tidak pernah mengkhianati proses kan? Hanya saja, kita tidak pernah mengerti tentang hasil terbaik. Karena terbaik antara versi manusia dan Tuhan itu memiliki definisi yang berbeda.
Kita sedang menjalani hari ini. Hari yang dulu semasa kita kecil, kita bercita-cita untuk berada di hari ini. Hari yang dulu dirancang penuh cita-cita. Apakah kita menjalani hari ini dengan bahagia, dengan bersedih, dengan rasa syukur, atau dengan kekecewaan?
Kita bisa melihat ke jejak langkah kita. Dan kita melihat hari yang sedang kita jalani, apa yang terjadi?
Mari bersyukur atas apa yang sedang kita jalani. Bila kita sedang sakit, maka jadilah orang sakit yang sabar. Bila kita sedang sehat, maka jadilah orang sehat yang mensyukurinya. Bila kita sedang jatuh, maka jadilah orang yang tenang agar bisa mengambil banyak hikmah. Bila kita sedang ditinggikan, maka jadilah orang yang rendah hati agar tetap bisa melihat ke bawah.
Mari menjalani hari ini dengan sikap terbaik. Semoga apapun yang terjadi pada kita hari ini, kita senantiasa menjadi orang yang selalu dibimbing langkahnya, selalu dijaga arah jalannya, selalu dilindungi imannya.
Versi Terbaik dari Dirimu Sendiri
Manusia itu memiliki dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Kadang manusia berada diantaranya. Ada yang bisa mengoptimalkan sisi baik, ada juga yang mengoptimalkan sisi buruk.
Pernahkah kita merasa bahwa ada satu titik dalam hidup yang pernah kita jalani, kita berada di posisi terbaik dari diri kita sendiri? Kita menjadi orang yang sabar, kita menjadi orang yang sangat tekun dan rajin, kita sangat bahagia, kita begitu leluasa? Adakah? Bila ada, coba ingat-ingat sebab apa kita menjadi seperti itu.
Begitu pula dengan posisi terburuk. Hidup manusia itu kayak detak jantung, tidak pernah lurus. Selalu naik turun. Kita semua pernah menjadi versi terburuk dari diri kita sendiri. Marah, kecewa, malas, dan apapun itu. Bila ada, coba ingat-ingat sebab apa kita menjadi seperti itu.
Hari ini dan seterusnya. Kita akan berupaya untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Ini tidak sama dengan “tidak menjadi diri sendiri”. Karena kita tidak meniru orang lain. Kita tidak sedang berusaha melampaui orang lain. Tapi, kita sedang berusaha melampaui diri kita sendiri.
Entah sebab pertemuan dengan seseorang yang tepat, entah sebab mengalami titik balik, entah sebab apapun. Kita percaya bahwa kita tidak diciptakan tanpa kelebihan, tanpa hal-hal terbaik yang ada dalam diri kita. Mungkin kita hanya belum tahu apa-apa tentang diri sendiri, kita pun mungkin belum menemukan sebab kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.
Untuk itu, berterima kasihlah dengan orang-orang yang tepat yang datang dalam hidupmu. Entah itu orang yang kamu kagumi, entah itu pasangan kita saat ini, entah itu teman terbaik yang kita miliki, entah itu keluarga kita. Karena dengan merekalah, mungkin kita bisa menunjukkan versi terbaik dari diri kita sendiri. Mungkin, hanya dihadapan merekalah, kita bisa menjadi diri sendiri.
Untuk itu, aku ingin mengucapkan terima kasih. Untuk orang-orang yang hadir hingga hari ini dalam hidup, juga untuk kamu.
Sudah Sejauh Ini Melangkah
Perjalanan sudah sejauh ini. Kapan berhenti? Sudah beberapa kali terjatuh, beberapa kali berhenti, menyangka sudah sampai tujuan tapi ternyata belum sampai. Menyangka sudah bertemu rumah, tapi ternyata milik orang lain.
Perjalanan sudah sejauh ini. Sudah lelah rasanya, tapi jangan sampai langkah kaki ini berhenti begitu saja. Perjalanan ini masih membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Harus mengalami panas dan hujan sepanjang perjalanan. Terik dan tak ada pohon peneduh. Hujan dan tak ada tempat menghangatkan diri. Tapi langkah kaki jangan sampai berhenti.
Perjalanan ini benar-benar membutuhkan keberanian. Keberanian mengambil keputusan di persimpangan. Karena sekali langkah itu diambil tidak akan pernah ada lagi alasan untuk kembali. Karena setiap keputusan yang diambil dalam perjalanan ini adalah keputusan permanen. Keputusan yang tidak bisa dibatalkan, keputusan yang akan menggema sepanjang perjalanan berikutnya.
Sudah sejauh ini. Entah kapan akan berhenti. Entah kapan akan tinggal menetap. Entah kapan akan menemukan tempat dimana kata rumah itu tidak hanya menjadi impian, tapi berubah menjadi kenyataan. Entah siapa yang akan memutuskan perjalanan ini. Entah dimana berhentinya. Yang penting saat ini, semeresahkan apapun keadaan disertai ketidakpastian. Jangan berhenti melangkah.
Tunggulah
Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu kan?
Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat, tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.
Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang baik selama menunggu.
Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu, karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.
Dan bila kamu memintaku untuk menunggu, aku akan melakukannya. Karena aku tahu kamu sangat berharga dan aku juga tahu bahwa menunggu ini tidak selamanya, tidak akan menghabiskan seumur hidup.
Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

0 komentar:
Posting Komentar