Data buku
a. judul buku : 9
Matahari
b. pengarang :
Yuli Anita (Adenita)
c. penerbit
beserta edisi cetakan : PT Gramedia Widiasarana Indonesia Jakarta
Cetakan pertama :
November 2008
Cetakan kedua :
Desember 2008
d. tahun terbit :
2008
e. tebal buku
(jumlah halaman) : ix + 362
f. harga
buku : Rp 54.000,00
Berapa banyak yang menjadikan ‘kuliah’ sebagai sebuah
impian?
Berapa banyak yang memaknainya sebagai sebuah
pencapaian yang berharga?
Berapa banyak yang menganggapnya sebagai suatu awal menuju
kesuksesan dan perubahan status sosial?
Seberapa banyak pula yang menganggapnya
hanya sebuah keharusan, kewajiban, tuntutan maupun rutinitas yang harus
dijalani suka ataupun tidak? Semua itu belum pasti. Namun yang pasti ilmu
merupakan sesuatu yang berharga untuk dimaknai tidak hanya sebatas itu saja.
Sebuah perjuangan seorang perempuan yang
ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu kuliah.
Sebuah tekad yang kuat untuk tetap menuntut ilmu. Kesungguhan dalam mencapai
impian dan aktualisasi diri yang membuatnya mampu breaking out the box dan melawan segala keterbatasannya. Ya, dia
adalah Matari Anas, seorang gadis yang tumbuh dari keluarga kurang mampu di
Jakarta.
Berawal dari keinginannya untuk kuliah di
sebuah Universitas swasta di Bandung, Tari membujuk kakak perempuan
satu-satunya untuk membantunya mencari biaya kuliah yang tidak sedikit bagi
mereka. Akhirnya dia nekat mencari pinjaman uang pada sanak-saudara untuk
membiayai dana awal kuliah sebesar 6,5 juta rupiah, dan dia pun berangkat
merantau ke Bandung untuk melanjutkan program ekstensi di Ilmu Komunikasi
Universitas Panaaitan.
Hari demi hari dia lalui dengan
penuh semangat, namun tiba suatu ketika dia harus menyadari akan kebutuhan
hidup yang semakin mendesak sehingga dia harus membagi waktunya untuk kuliah
dan bekerja. Disela-sela kuliahnya dia harus menyempatkan diri untuk menjadi
penyiar radio, MC, script writer dan menerima proyek kecil-kecilan dari
teman-teman dekatnya. Sungguh lelah memang tapi mau gimana lagi sudah tidak ada
pilihan lain untuk melanjutkan hidup. Namun usaha-usahanya itu hanya bisa
memberi sedikit nafas kehidupan buat Tari, dia harus meminjam uang kesana
kemari. Gali lubang tutup lubang seperti telah biasa dia lakukan.
Sampai akhirnya dia bertemu
sebuah keluarga yang benar-benar memberinya pandangan baru dan penyucian jiwa,
sekaligus menjadi keluarganya di Bandung. Dia pun bertemu empat serangkai yang
memberinya petualangan untuk membentuk televisi lokal CTV. Dari merekalah Tari
menemukan kembali tujuannya. Dari merekalah Tari berani untuk menghadapi dunia
kuliah kembali, setelah sekian lama cuti. Berkat doa-doanya kepada Yang Maha
Kuasa mulai dikabulkan dan dengan Tari yang baru semua halangan yang ada
menjadi sangat mudah ditempuh.
Buku
9 Matahari ini menceritakan pelajaran hidup yang betul-betul membakar semangat.
Perjuangan, keteguhan, kepercayaan dan kesabaran teramu dengan baik di
dalamnya. Dari kisah inilah kita disadarkan bahwa hambatan apapun bukanlah alasan
untuk berhenti untuk meraih tujuan. Menyadarkan kita bahwa kita patut
mensyukuri apa yang didapatkan sekarang ini merupakan rahmat Yang Maha Kuasa.
Namun yang Tuhan berikan tak selamanya mencerahkan masalah yang kita hadapi
dengan wujud materi. Banyak hal yang lebih berharga dari itu, seperti
persaudaraan atau kesadaran untuk memaknai hidup.
Menurut
pendapat saya, penulis dapat menyampaikan pesan moral yang baik. Pembawaanya
pun dapat menghanyutkan pembaca. Mengharukan namun tidak cengeng. Dari segi
konflik mungkin sedikit monoton, di awal hingga pertengahan cerita memunculkan
kesan bosan membacanya,, tetapi setelah mencapai klimaksnya, alur cerita lebih
mengalir dan luapan emosi mulai terasa.
Secara
kesuluruhan buku ini sangat menginspirasi, memberi semangat untuk terus
melanjutkan jalan pendidikan walau berbagai masalah mendera. Selain itu kita bisa lebih mensyukuri
sebagai mahasiswa untuk lebih banyak lagi berkarya. _GRK_

