Baik untuk direnungkan bersama

Tidak Ada Jalan Untuk Kembali
Pernah tidak dalam satu kondisi kamu ingin rasanya kembali ke posisi awal. Posisi dimana keputusan yang sedang dijalani saat ini tidak pernah kamu ambil sama sekali. Posisi disaat kamu bisa memutar keadaan hari ini, masih memiliki kendali untuk memilih dan menentukan tentang pilihan yang bisa diambil.
Hari ini semua hal yang dulu kamu pilih sedang dijalani. Ada rasa sesal atas keputusan yang tersebut, ada rasa berat menjalani, ada rasa tidak lagi berdaya atas keadaan yang menimpamu. Padahal itu juga karena pilihanmu sendiri, bukan karena orang lain, bukan karena disuruh, juga bukan karena dipaksa.
Ketika kamu ingin keluar dari keputusan itu saat ini, ada banyak hal besar yang membuatmu resah, membuat khawatir. Karena apa yang sedang dijalani sekarang tidak hanya menyangkut dirimu sendiri, tapi juga orang-orang disekitarmu. Orang-orang yang kamu sayangi. Tapi, perasaan tidak berdaya itu membuatmu semakin terpuruk dan kamu selalu berusaha bertahan. Menguatkan diri.
Akan tetapi, emosi tidak sejalan jalan yang lurus. Di satu titik, di sudut kamarmu, kamu menangis karena merasa sudah tidak sanggup menjalani dan ingin keluar dari semua itu. Keputusan besar yang harus kamu ambil adalah mengakhirinya. Meski kemudian membuatmu harus mengeluarkan energi lebih besar untuk orang-orang disekitarmu agar mereka bisa mengerti dan memahami pilihanmu.
Yakinkan dan kuatkan karena akan selalu ada orang yang bisa memahamimu, sekalipun pilihanmu-keputusanmu adalah keputusan-keputusan yang bertentangan dengan harapan banyak orang. Karena hidup tidak pernah ada jalan untuk kembali tapi kita selalu bisa memulai yang baru dengan mengakhiri apa yang sudah ada.
-Kurniawan Gunadi-

0 komentar:

Posting Komentar