ingin ku sebut namamu tiga kali, meskipun ku tahu tak akan terjadi apa-apa ketika aku mengatakannya.
kau pernah mengatakan jika aku merindukanmu, panggil namamu tiga kali.
ya, paling tidak mungkin kamu hanya akan tahu aku sedang merindukanmu, tapi kamu tak akan tahu seberapa besar aku merindukanmu.
harapanku padamu mungkin terlalu besar, namun aku tak ingin menyerah begitu saja, aku ingin memperjuangkan perasaanku.
aku cukup tahu bagaimana resiko yang akan ku hadapi nanti
tak sedikit memang, bahkan mungkin salah satu dari kita bakal tersakiti
bisa saja aku yg terluka, atau kamu? atau kita berdua yg terluka.
semua hal yg kita lakukan itu pasti ada resikonya,
sekecil apapun itu yg kita lakukan resiko akan muncul
bahkan kita hidup pun beresiko
kalau tak ingin menghadapi resiko itu, mending mati saja, ah, bahkan mati pun sangat beresiko
ketika kita ingin meraih sesuatu yg besar, maka resiko yg kita hadapi juga semakin besar
kenapa kita hanya menginginkan hal yg kecil saja kalo toh sama beresiko? lebih baik kita raih hal yg lebih tinggi, bukan?
memang, kata-kata itu mudah diucapkan dibanding dengan tindakan. makanya, kita harus usahain, kita perjuangkan apa yg kita inginkan, tak hanya diam saja.
rasanya kalimat-kalimat ini seolah menamparku keras di pipi. tak seharusnya aku diam saja menunggumu
kawan-kawanku telah berkata, "jika memang orang itu menyayangimu, dia pasti berusaha buat dapetin kamu, dia akan memperjuangkanmu, kalo emang dia gak ada usaha, mending kamu tinggalin aja dia"
meskipun begitu, aku masih menunggumu, ntah sampai kapan. haruskah aku begini? sepertinya aku memang master of waiting, aku telah terbiasa jadi orang yg menunggu yg lain, bagus kah ini?
ketika kamu bilang "orang itu" adalah aku, dan kau ingin sendiri, karna akan lebih fokus ketika kamu sendiri. I'm a little bit confused. aku gak tahu maksudmu apa. antara aku senang itu aku, dan aku sedih karna kamu memlih sendiri. dan di hari yg lain kamu mengatakan hal yg hampir sama, kamu menyarankan kita untuk fokus kuliah dulu. oke, aku rasa aku tak masalah harus menunggu sampai kita lulus. akhir Agustus ini aku wisuda, dan aku berharap kamu bisa cepat menyusul wisuda di semester berikutnya. hanya saja tetap ada rasa khawatir, akhir semester ini kamu mungkin bertemu dgn orang lain dan aku juga setelah lulus bakal kerja. sanggupkah kita? atau sebenarnya bukan kita, tapi aku. sanggupkah aku?
ketika tak ada ikatan maupun komit, kita gak berhak untuk membatasi ruang masing2. memang semua itu ada hal positif dan negatifnya. mari kita justifikasi, lihat asas kemanfaatannya. apakah memang lebih baik kita jalan masing-masing? untuk saat ini aku hanya sanggup berdoa, berdoa untuk yg terbaik untuk mu dan untukku. Only God knows.

0 komentar:
Posting Komentar