Merelakanmu

Selama bulan Maret kemarin aku gak ada nulis diblog ya... Kangen nulis jadinya.. Padahal juga gak sibuk, wongan pengangguran dari akhir Februari, tapi ya gitu, akses internet terbatas dan emang rasanya males ngetik, padahal di otak udah bersliweran kata... Kata kata curhat sih tepatnya... Hha...

Sudah bulan April...
Kamu kudu tau, aku nulis ini masih ngerasa sedih, tapi uda lebih lega n mendingan..
Aku syok memang, semendadak itu kamu bilang 3 hari lagi kamu uda berangkat pulang ke kampung halamanmu itu.. Aku memang sudah tahu cepat ato lambat kamu bakal balik kesana, tapi aku gak menyangka secepet ini kamu pergi ninggalin aku sendiri.. Terakhir ketemu memang baru kemarin sebelum aku pulang ke Jogja.. Pertemuan sekilas yang sampe aku ga menghitungnya sebagai sebuah pertemuan, tapi ya salah juga, karna bagaimanapun kita sudah bertemu waktu itu walo hanya untuk satu jam saja.. Aku ngerasa belum siap aja, aku yang terlalu kebawa perasaan, uda gak bisa mikir jernih.. Toh pada akhirnya juga sekarang aku mulai menyadari, bahwa sebenarnya kita pun juga jarang bertemu, kita gak seperti pasangan-pasangan lainnya... Tapi aku tahu, kamu selama ini dah berusaha sebaik mungkin buat tetep ngejaga komunikasi kita dengan selalu hubungi aku di waktu2 luangmu.. Aku yang salah, yang masih ngerasa itu kurang, dan menuntut lebih.. 
Coba flash back, aku menyadari, sebelum ada kamu, iya aku menjalani hidupku seperti biasa.. Tanpa kamu, aku sudah berusaha untuk bisa mandiri, mengerjakan banyak hal sendiri, aku sudah terbiasa dengan itu semua.. Ya mungkin dulu ada temen di sekitarku yang bisa menemaniku kemana aku mau, ada sodara yang bisa diajak jalan, atopun keluargaku sendiri yang pasti ada untukku.. Dimana kamu sebelumnya?? Tidak banyak pengaruhmu saat itu... Kenapa sekarang aku berpikir terasa begitu berat kalau kamu pulang? Padahal apa bedanya dengan dulu? Aku mungkin udah ngejalanin masa sendiriku 5 tahun terakhir.. Aku merasakan pahitnya sendiri dan sakit hati sebelumnya dan aku masih bisa berdiri dan bertahan.. Sekarang, seharusnya aku lebih kuat.. Yang berbeda hanya jarak yang memisahkan kita, kamu tetap sama, masih bisa menghubungiku di sela2 waktumu.. Mungkin kita tak bisa bertemu sesering beberapa bulan terakhir ini, tapi toh dunia sudah canggih sekarang, kamu hanya butuh meluangkan waktu dan sedikit kuota bisa telepon, chat atopun vidcal..
 Hmmm... Apa yg mesti digalauin lagi?. 
Sudahlah, bagaimanapun aku kudu kuat! Sekarang aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa aku kudu ngejalanin hidupku seperti biasa tanpa kamu.. Bahkan ada atau tidak ada kamu, hidupku harus berjalan, waktu terus berputar, dan aku harus menyibukkan diri, melakukan hal hal positif.. 
Aku tahu semua ini buat kebaikan kita bersama di masa depan. 
Aku mempercayai, ketika kamu kembali lagi, kamu tak akan pergi.. ^^ semoga aku bisa kuat menjalaninya.. Semoga jarak ini membuat kita belajar banyak hal..
Terima kasih....

Bekasi...

Bekasi.. adalah kota yang ku tempati selama 6 bulan terakhir ini, sebenarnya lebih tepatnya aku berada di dalam kawasan industri di daerah Cibitung, Bekasi.. Sudah cukup waktuku untuk bertahan disini, dan kuputuskan untuk pergi dari sini.
Banyak yang bilang Bekasi itu seperti planet yang berbeda dengan bumi, entah ini yang mulai siapa, karna mungkin rasanya asing, bisa dibilang kota nggak, desa juga nggak.. trus ada yg bilang juga kalau masuk ke Bekasi mah kudu pake passport hahaha.. juga, kalau dari arah Jakarta naik kendaraan dan tiba-tiba kerasa jalanannya bergelombang, berarti kamu uda mulai masuk planet bekasi.. haha unik yaa apa yang orang-orang bilang...
Kalau apa yang aku rasa, ya karna aku tinggal di dalam kawasan, keluar main jarang kecuali kalau hari sabtu/minggu dan itu pun malah sekalian ke Jakarta. Jadi aku gak terlalu merasakan bagaimana Bekasi itu.. ya memang kalau aku mau ke Jakarta itu butuh waktu yang cukup lama dan kudu sabar lah yaa.. dan kalau uda pulang malam agak ngeri juga sih.. tapi sejauh ini masih baik-baik aja kok..
Tulisan ini bukan mau menjelek-jelekkan Bekasi kok..
Enam bulan rasanya benar-benar sudah cukup aku merasakan tinggal disini,, sudah cukup melengkapi pengalaman hidupku... Kamu belum lengkap melakukan perjalanan kalau belum coba tinggal di Bekasi.. Coba deh..

Merasa Bersalah

Rasa bersalah itu mulai menghinggapi diriku...
Aku merasa bersalah padamu..
Sungguh, aku ingin meminta maaf sebanyak-banyaknya, dan mungkin kamu akan terbengong karna tak tahu kenapa aku begini...
maaf.. aku belum bisa menjelaskannya..

aaaa antara mau berterus terang dengan tidak bercerita, sulit ku putuskan.. ah sudahlah, anggap saja tidak terjadi apa apa,  tapi aku merasa mengganjal kalau tidak bercerita.. padahal toh mungkin kamu bakal biasa aja menanggapinya haha, akunya yg gampang baper..

Pekerjaan yang harus diakhir

Kamu tahu, beberapa hari lalu aku sempat merasa harga diriku jatuh.. haha
rasanya tu kayak orang pacaran, aku minta putus karna satu dua hal, lalu baikan, tapi kemudian aku diputus dengan alasan hal yg aku sampaikan di awal itu... semacam bumerang untukku.. haha.. bukan karna diputusnya aku sedih, bukan.. justru aku bahagia, ada perasaan lega ketika aku lepas, tapi lebih ke harga diriku.. aku yg minta baikan untuk tetap bertahan, tapi akhirnya diputusin... tau begini kan dari awal yauda putus aja kan? gengsi aku mau dikemanain???

tapi itu hanya terasa sehari semalam setelahnya, setelahnya yauda lewat... tinggal plan ke depannya mau gimana... yg jelas aku ingin have fun for awhile dan menata hidupku kembali..

Hari ini aku baca artikel kecil dari Forum Ippho Santosa bahwa bagi manusia modern, salah satu yang dianggap masalah adalah pekerjaan kantor.. apa benar ini masalah atau hanya sikap dan keputusan kita yang salah?
Mnurut riset dari Centre for Work and Life di Universitas Australia Selatan, mengulik fakta bahwa ibu yang bekerja adalah orang yang aing jarang merasa bahagia. ini karena banyaknya tekanan pekerjaan yang harus dilakoni, mulai dari pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, anak dan suami.
Lebih lanjut riset tersebut menjabarkan, kaum hawa lebiih rentan terkena stress dan depresi akibat bekerja full-time, ketimbang pria. sejak 2007 hingga 2010 telah terjadi peningkatan sebanyak 10 persen bahwa pekerjaan kantor seringkali mengganggu aktivitas di luar kantor.
lalu pada 2010, sekitar 25% kaum hawa yang bekerja full-time merasa tidak puas dengan kehidupan pekerjaannya. nah, disini kita perlu berhati-hati karena tekanan pekerjaan bisa berakibat buruk bagi kesehatan, terutama jantung... dehhh..
penelitian lain yang diterbitkan jurnal Occupational and Environmental medicine mengungkapkan bahwa kaum hawa yang bekerja di bawah tekanan ternyata dapat berakhir dengan jantung koroner.
Nah disarankan wanita sebaiknya tidak bekerja di kantor. kalaupun iya terpaksa bekerja di kantor, baiknya di sektor pendidikan dan kesehatan. lalu tidak yang ada kejar-kejaran target, dll...

Jadi ya mungkin aku kalau bekerja lagi tidak harus kerja kantoran, apalagi di pabrik seperti ini... bisa bisa nanti kerja 5 taun disini uda jantungan haha.. kidding..
Mungkin tubuhku sudah menyimpan terlalu banyak stress/ tekanan yang sebenarnya itu tidak aku sadari.. Mungkin tubuh ini sudah memberontak butuh sesuatu yang lebih membahagiakan.. Mungkin terlihat bahagia dari luar tapi raga ini melakukan penolakan keras jika aku terus menerus disini.. jadi Skenario Allah itu memang luar biasa.. Allah tahu yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan :)

Alhamdulillah.. selalu bersyukur banget dengan apa yang kita dapat dalam perjalanan yang dipilihkan Allah ^^

Selamat beraktivitas

Bertahan

Semangat pagi ^^
Selalu ada rindu terselip diantara doa-doa di pagi hari...
ciat ciaaahhh pagi pagi uda baper..

Akhirnya keputusan yang kuambil adalah bertahan disini, dan sedikit mengurangi harapan untuk berpindah pekerjaan... ya at least sampai saatnya tiba, dimana kamu sudah mendapatkan tempat kerja yang lebih baik dari sekarang, dan siap untuk menikahiku.. dan saat itu mungkin aku akan mencoba mencari pekerjaan di tempat kamu berada, atau aku membuat pekerjaan sendiri, supaya aku bisa leluasa menemanimu di setiap pekerjaanmu.. apalagi kalau nanti pekerjaanmu membuatmu sering berpindah kota, well aku sih gak masalah kamu mau kerja dimana aja, mau pindah-pindah pun aku oke aja, selama aku ikut,, hahaha :D kalau aku ditinggal ya gak mau dongse... ini berlaku kalau sudah nikah lo yahh.. kalau untuk saat ini, kita kan belum ada ikatan yang halal.. jadi aku akan bersabar dan bertahan.

Tapi... aku masih berharap, kalau misal nanti ada pekerjaan yang bener2 aku mau, cucook sama aku, dan aku bisa mendapatkannya ya aku akan pergi dari sini, meskipun itu jika aku belum menikah denganmu...
gapapa dong selama masih ada kesempatan kan... aku juga mau ngebahagiain diriku sendiri, ya karna menurutku aku bertahan disini bukan untukku, bukan karna aku tak bisa mendapatkan pekerjaan lain di luar sana... aku bertahan karna pertimbangan dari orang tua dan kamu... nggak, aku gak menyesal jalanin ini demi kalian... yah mungkin nanti jika aku sesekali mulai mengeluh, tegur aku.. ingatkan aku yah..

keinginanku ke depan untuk menjadi wanita kuat, dewasa dan dapat mengambil keputusan sendiri. terima kasih telah dukung keputusanku.. ^^

semoga apapun konsekuensi akan dijalani dengan penuh ikhlas... Aamiiin..

Decision

Beberapa kali aku di tempatkan pada posisi dimana aku harus memilih, whether to stay or leave...
Bukan suatu pilihan yang mudah untuk diputuskan, karena bakal ada banyak konsekuensi yang mengikuti tiap pilihan itu..
Menimbang hal-hal positif dan negatif dari keduanya. keegoanku masih cukup besar.. rasa ingin bebas itu ada.. tapi aku juga harus mempertimbangkan pendapat orang lain.. because you're not live alone and you only live once.. fiuh *menghela nafas panjang*

should I cry? but it will not help.. it will not solve the problem..

actually I've decide that I'll leave, but what's the hardest thing is when my father want me to stay... I dont know why, he and I sometimes have opposite choice, but what I've done was live in his choice.. then I regret it..
I wont regret anymore..

Sedikit Pencerahan untuk Wanita yang sedang menunggu

Ketika perasaan sedang bercampur aduk, tidak tahu harus bagaimana, terutama setelah pembicaraan kemarin itu, bahwa pada intinya kamu masih butuh waktu untuk datang menemui orang tuaku, aku menemukan artikel "Kemapanan dan Harga Diri Laki-Laki"
dan semoga ini bisa membuatku lebih mengerti alasanmu...
dan semoga aku bisa mendampingimu dalam mencapai semua target-targetmu itu..

Here the article...

Kemapanan adalah harga diri laki-laki. Jika kemapanan itu diidentikan dengan materi, maka kemapanan materi menjadi harga dirinya. Sebab diluar sana ada laki-laki yang mengartikan kemapanan itu lebih sulit lagi, kemapanan agama. Aku sulit mendefinisikannya, tapi aku tahu seperti apa kemapanan agama itu. Tapi, mari kita kesampingkan dulu hal itu, kita bahas dibelakang.

DItengah era kapitalisme seperti saat ini. Materi memiliki peranan penting bagi laki-laki. Itulah harga dirinya di depan orang tua sang perempuan. Hal yang bisa membuatnya berani mendatangi rumahnya dan mengucapkan lamaran. Hal yang bisa membuatnya berdiri tegak dan percaya diri di hadapan sang wali. Menyatakan kehendaknya dan berani menjamin kehidupan anak perempuannya kelak tidak akan kesulitan materi. Setidaknya sandang-pangan-papannya terpenuhi.

Dan ditengah era kapitalisme ini, (kebanyakan) orang tua tidak akan rela melepaskan anak perempuannya kepada laki-laki yang tidak jelas kemana hidupnya. Setidaknya semuanya distandarkan pada pekerjaan yang dimilikinya saat ini. Bagaimana menghidupi anak perempuannya yang selama ini hendak dibuat sempurna hidupnya. Tidak rela membiarkan anaknya dibawa hidup susah. Meski, sang anak tidak masalah dengan semua itu.

Dan bicara mengenai harga diri, jangan sekali-kali mengusikanya. Ketika ia jatuh, ia tidak lagi menjadi laki-laki. Seperti kasus dari cerita seorang teman. Ketika istri memiliki posisi tinggi dengan gaji sebulan serasa satu tahun kerja. Laki-lakinya diminta tinggal dirumah. Mengurus anak, mencuci baju, menjaga rumah. Sangat ekstrim memang. Hingga pada akhirnya laki-laki ini benar-benar kehilangan kendalinya, ia tidak bisa mengontrol dan membimbing istrinya sendiri. Hilang harga diri dikeluarga besarnya.

Kemapanan membuat laki-laki lebih berani. Mari kita saksikan, laki-laki dengan kemapanan lebih berani mendatangi perempuan yang dia idamkan. Beda dengan laki-laki yang masih tidak bisa menanggung hidupnya sendiri. Susah payah mencari rejeki yang dijanjikan. Mana berani dia datang ke orang tua perempuan. Ditanya apa jaminan bagi anak perempuannya. Hilang kata ditenggorokan.

Itulah sebabnya laki-laki, pada umumnya, begitu mengejar kemapanan. Hingga usia diatas 25 masih belum memutuskan hendak mengambil teman hidup. Ada hal yang menurutnya belum terpenuhi, dan lagi-lagi soal materi. Dan standar kemapanan setiap laki-laki tidak sama.

Kemapanan ini adalah harga diri laki-laki. Ketika kamu bertanya, kenapa sih lama  banget gak dilamar aja dan dia menjawab, “aku belum mapan”. Maka tahanlah amarahmu, memang seperti itulah laki-laki pada umumnya. Dia hanya ingin memastikan semuanya baik-baik sejak awal. Cukup sulit mengubah paradigma umum seperti ini. Bahwa laki-laki harus memiliki pekerjaan tetap dahulu, memiliki rumah tinggal, atau apapun itu sebagai bukti bahwa dia bisa menjamin kehidupan seseorang.

Kemapanan ini membuat bahunya berdiri tegak dihadapan teman-temannya. Tidak akan direndahkan posisinya hanya karena kekurangan daya. Dihormatinya dia karena kemapanannya itu.

Dan selalu ada anomali di dunia ini kan?

Pemahaman hidup tiap laki-laki tidak sama, pemahaman orang tua pun tidak sama. Ada dan selalu ada yang mengartikan kemapanan itu bukan sebagai materi. Tapi kemapanan agama. Maka aku ingin kabarkan sedikit kepadamu, bahwa diluar sana ada laki-laki yang melihat materi tidak lebih dari dirimu. Dan selalu ada orang tua perempuan yang paham bahwa ada yang lebih utama dari sekedar kemapanan materi laki-laki. Aku banyak menemui ini, orang-orang yang percaya bahwa kemapanan materi bukanlah standar yang layak untuk diambil.

Meski begitu, laki-laki akan terus berupaya mencapai kemapanan materi. Sekedar untuk memastikan hidupmu dan anak-anakmu kelak tidak akan kesusahan. Maka bersyukurlah perempuan yang mampu mendampingi proses kemapanan itu. Karena tidak semua laki-laki mau mengajakmu bersusah payah untuk itu, mereka pada dasarnya ingin memastikan semuanya telah kokoh sejak awal.

Kepercayaan itu penting untuk kau berikan berikan kepadanya. Dan sekali-kali, janganlah merendahkan harga dirinya. Bagi laki-laki pada umumnya, harga dirinya tidak bisa ditawar oleh apapun. Sebab itulah bentuk kelaki-lakiannya. Dukunglah proses itu dan jagalah harga dirinya. Jagalah harga diri itu dihadapannya dan dihadapan orang lain. Percayalah, dengan begitu kau akan mendapatkan hati dan cintanya. Sekalinya dia mencintaimu, dia akan menjadikanmu ratu.
Meski aku tahu, bagimu tidak masalah laki-laki datang kepadamu dengan ketidakmapanannya. Dan kamu ingin sekali memberikan peranan untuk mencapai kemapanan itu, bersama-sama. Tidak semua laki-laki memahami ini. Tidak semua orang tua perempuan paham seperti ini. Tidak semua laki-laki pula percaya begitu saja pada kata-kata suci ini, bahwa kemapanan iman jauh lebih penting dari harta dan intan berlian.
Maka, aku sarankan kamu mencari laki-laki yang memiliki pemahaman yang baik. Agar hidupmu kelak tidak hanya mengejar dan memenuhi materi. Agar dalam keluargamu kelak, tidak semuanya distandarkan pada materi. Agar kelak, tidak disibukkan dengan mencari materi. Carilah yang benar-benar memiliki pemahaman yang baik. Kamu tahu kan cara mencarinya?

Dan ini ada pendapat dari sudut pandang wanita di artikel "Kemapanan Karakter"

Ada hal yang jauh lebih penting daripada kemapanan itu sendiri. Teman baikku menyebutnya sebagai modal kemapanan. Sesuatu yang tidak berubah dari jaman dulu hingga ribuan tahun mendatang. Modal kemapanan itu adalah karakter. Tentu saja karakter yang baik. Kemapanan berupa kekuatan finansial akan berubah seiring waktu, dia tidak melekat secara utuh. Bisa tiba-tiba hilang begitu saja.

Karakter melekat pada diri dan ada di dalam diri manusia. Sedangkan kemapanan materi berasa dari luar diri manusia, bisa hadir dan bisa hilang dengan mudah, tidak melekat.

Karakter seperti jujur, bertaqwa, baik, santun, lemah lembut, ulet, pekerja keras  dll sifatnya jauh lebih abadi dibanding kemapanan itu sendiri. Kemapanan finansial bisa didapat melalui karakter-karakter baik itu. Meski bisa juga terjadi seseorang menjadi kaya raya karena mendapat banyak warisan dari orang tuanya. Akan tetapi, jika ia tidak memilki karakter baik itu, lihatlah berapa lama semua kekayaannya akan bertahan. Atau mungkin juga harta benda seseorang hilang sekejar karena bencana alam atau sejenisnya. Untuk makan pun tidak ada. Apa yang membuatnya bisa bertahan dan bangkit? Karakter baik lah yang akan membuatnya mampu melalui semua proses itu.

Parameter mapan akan selalu berubah dan hampir tidak ada tolok ukur pastinya. Setiap orang berbeda. Akan tetapi, modalnya tetap sama. Yaitu karakter baik. Itulah mengapa memilih seseorang dengan karakter yang baik jauh lebih penting daripada soal kemapanan itu sendiri.

Materi yang didapatkan dengan modal karakter baik akan memiliki nilai keberkahan, karena dia akan menjaga segala sumber materi itu agar mengalir melalui cara-cara yag berkah. Tidak hanya sekedar dapat dan asal melimpah.

Laki-laki banyak yang abai dalam mempersiapkan karakter ini. Lebih sibuk mempersiapkan diri dengan hitungan rupiah dan memiliki rumah atau semacamnya. Sementara pendapat teman baik saya ini sendiri mematahkan keyakinan saya soal materi dan kemapanan.

Perempuan, pada dasarnya tidak begitu melihat kemapanan finansial sebagai sesuatu yang harus dan wajib. Namun melihatnya sebagai sebuah bukti kesiapan. Laki-laki yang siap secara finansial untuk memberi nafkah tentu baik.

Namun, perihal karakter ini benar-benar telah memporak-porandakan apa-apa yang selama ini menjadi salah dan terlalu berlebihan. Bahwa karakter baik akan mengantarkan seorang laki-laki ke dalam segala kesiapan baik batin maupun fisik. Tidak melakukan penundaan atau bahkan meminta seseorang perempuan untuk menunggu hanya karena alasan belum siap secara finansial. Karakter baik ini akan menjauhkan seseorang dari prasangka buruk dan ketakutan soal rejeki. Bahwa rejeki itu akan dijamin selama ia mau mengusahakan.

Kata teman baik saya, tidak penting berpenghasilan tetap, yang terpenting tetap menghasilkan. Orang dalam hal ini laki-laki dengan karakter baik akan tahu dimana tanggungjawabnya.

Tidak hanya sebagai seorang suami saja dan juga kelak ketika menjadi ayah. Tidak hanya pandai ‘membuat anak’ tapi juga ikut serta dan pandai mendidik anak. Teman baik saya menambahkan, hampir tidak ada kisah cinta yang terbaik dalam sejarah yang menceritakan soal kemapanan finansial sebagai tolok ukur utama. Wanita-wanita utama dalam islam pun tidak memilih seseorang lantaran kekayaannya, namun ketaqwaan dan keimanannya. Sesuatu yang jauh lebih abadi daripada materi. Sesuatu yang akan membuat seorang laki-laki mau berusaha keras dan sadar kewajibannya.

Lalu bagaimana caranya melihat karakter seorang laki-laki, pertanyaan ini tentu akan menjadi berbeda. Tidak ada rumus khususnya karena karakter itu akan muncul dengan sendirinya. Sesuatu yang alami dan berjalan dibawah kesadaran.

Gunakan mata hati kita untuk melihat. Betapa banyak sebenarnya laki-laki baik di sekitarmu. Juga betapa banyak laki-laki yang pura-pura baik, menutup-nutupi segala kekurangannya dan melipatkangandakan segala kelebihannya sebagai mana para pencinta yang mabuk oleh romantika masa muda yang melenakan itu.

Karakter yang baik akan memberikan kesadaran bahwa mencintai itu bukan hanya soal waktu, namun soal keimanan dan ketaqwaan. Bahwa mencintaimu tidak dan jangan sampai mengkhianati Tuhan. Apalagi menentang segala aturan-Nya. Cinta yang baik akan lahir dari karakter seseorang yang baik.