Tapi pernah kamu mencoba menuliskan harapan dan impianmu dalam suatu buku impianmu? Dan pada akhirnya kamu menyadari satu persatu impianmu itu terjadi? Hmmm.. Sebenernya aku bukan mau menjelaskan banyak tentang impian ini, yang ingin ku katakan adalah salah satu impian yang ku tulis telah terjadi padaku, yaitu aku bisa pergi ke Lombok, dan itu bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Mungkin itu hal simpel, mungkin orang lain punya keinginan lebih dari itu, pergi ke luar negri misalnya, tapi entah aku bahagia sekali sudah bisa kesana dengan uang yang aku kumpulkan sendiri dn hal itu adalah hal yang tak pernah kusangkakan semudah itu..
Dimulai dari suatu takdir yang membawaku ke pulau dewata, pulau yang terkenal dengan wisatanya, pulau yang penuh dengan turis dari berbagai negara, pulau yang mayoritas masyarakatnya beragama hindu. Aku yang awalnya sudah tinggal selangkah untuk bekerja di Jakarta, cuma perlu membeli tiket dan berangkat ke ibukota, tapi karna rasa malasku akan kehidupan padat di ibukota, aku selalu menunda untuk membelinya.. Kemudian aku melalui seorang kakak tingkat, akhirnya aku dipertemukan dengan sebuah pekerjaan yang mengubah jalanku. Aku diterima kerja di Bali, and siapa sih yang gak mau ditawarin kerjaan di Bali? Ya mungkin ada sih, tapi kalau dengan pola pikir seperti aku, jelas aku pilih BALI. Saat itu untuk penawaran gaji ya hampir sama. But I dont think about it much, I just think about BALI and this is near to Lombok, udah simple itu aja.. Aku dibelikan tiket pesawat ke Bali, dan sudah ada 2 orang sealmamaterku yang menunggu kedatanganku disana.. Well, singkat cerita aku hidup bekerja banting tulang di Bali dengan segala hingar bingar di dalamnya...
Seorang aku, yang tak bisa diem kalau lihat tempat wisata, memanfaatkan setiap waktu luang untuk pergi mengunjungi tempat2 itu tanpa atau dengan teman...and saking ngebetnya, saat itu ada libur sekitar 2-3 hari, dan tanpa banyak planning, aku dan seorang temanku itu memutuskan untuk pergi ke Lombok. Dengan modal informasi yang sedikit, dengan modal uang yang tak banyak, kami memberanikan diri untuk berangkat traveling ke Lombok.. Meskipun beberapa teman menentang, menurutku mereka terlalu parno, kwatiran, dan aku cuekin aja mereka. Aku menghubungi salah satu teman kenalan di instagram, dan aku mendapat beberapa recomended place pdi lombok. Walaupun sebenarnya keinginan besarku hanyalah menginjakkan kakiku disana...
Pagi itu di bulan November.. Aku dan Dew berangkat dari Kos sekitar jam7 pagi, cari perbekalan jajan dan lain-lain, lalu cuss pelabuhan Padang Bae, yg terletak di ujung timur pulau Bali.. Dengan modal nekat dan feeling, akhirnya nyampe juga di pelabuhan jam9an naik motor dengan bergantian setir motornya biar gak terlalu capek. Kami membeli tiket menyebrang untuk motor sekitar Rp 125.000, mau berdua, bertiga berlima skalipun kalo semotor juga segitu, tapi kam gak mungkin kan yaa.. Hahaha.. Nyebrang pulau sekitar 4 jam. Yes, touch down Pelabuhan Lembar, Lombok.
Masih dengan modal feeling, kami keluar pelabuhan mengikuti truk dan kendaraan-kendaraan lain menuju ke kota. Ada petunjuk jalan menuju ke Senggigi, suatu pantai di ujung barat Pulau Lombok, dan kami pun menyusuri sepanjang jalan melewati desa di lombok barat, kota mataram dan sampailah di Pantai Senggigi.. Tidak ada tanda-tanda spesifik yang bertuliskan tanda masuk pantai, yang ada banyak cafe-cafe berjajar dan hotel-hotel berbintang yang ramai pengunjung manca negara. Kami memilih salah satu gang kecil menuju pantai yang menurut kami itu jalan yang paling memungkinkan untuk kalangan tanpa dompet tebel seperti kami. Kami parkirkan motor kami, dan berjalan ke pasir menuju tepian air..waw.. Aku merasa bahagia banget, gak nyangka rasanya sudah sampai disana.. Kami duduk beristirahat, tak lupa kami membuka perbekalan kami. Ya memang, demi mengirit uang saku, kami membawa makan dari kos. Kami menunggu senja tiba di tepian, tapi mungkin cuaca kurang mendukung, sehingga kami tidak mendapatkan langit sore yang indah, dan ombak pun mulai pasang. Kami pun memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar sana. Salah seorang penjaja tepian pantai merekomendasikan sebuah home stay di belakang. Kalau tidak salah dapat harga 150rb berdua, kamar mandi dalam, kipas angin+ sarapan. Tapi waktu itu karna kami berangkat pagi-pagi sekali kami tidak sempat sarapan. Bahkan kami meninggalkan homestay tanpa pamit.
Pagi setelah subuh, kami memutuskan berangkat dari homestay, dan kami membawa sebuah peta wisata yang kami sobek dari majalah yang ada di kamar *antara nakal dan banyak akal beda tipis*.. Kami tidak mengandalkan GPS, karena bagi kami itu terlalu complicated.. Tujuam hari itu kami ingin ke pantai di bagian selatan, jadi kami harus menyebrangi lombok dari barat menuju lombok tengah bagian selatan. Kami sempat menikmati sunrise di jalan.. Dan sampailah di Pantai Kuta-Lombok, masih terlalu pagi memang, dan kami hanya bermain main air di tepian.. Bagi kami cukup melihat keindahannya dan mengambil beberapa foto untuk diabadikan saja sudah cukup..
. Kami menyusuri pantai pantai selatan.. Di daerah sana banyak anak-anak dan ibu-ibu penjaja kain dan gelang yang dibuat oleh suku sasak, dan perlu kamu tahu, jika kita membeli dari satu orang saja, yang lain juga bakal ngikutin kita sampai kita mau beli juga. Nah saranku sih mending gak usah beli sama sekali.. Tapi ya kalau kalian punya uang berlebih itu gak akan jadi masalah.
Setelah lelah bersantai di pantai karena hari mulai panas, kami berunding dan ingin mencoba pantai di ujung timur, menurut kakakku yg pernah kesana itu pantai cantik banget, namanya Pantai Pink.. Tapi menurut referensi dari beberapa teman, jalan menuju kesana itu jelek pake banget, jadi mereka gak recomendasiin buat kesana apalagi aku cuma berdua cewek2 gitu kam... Tapi entah kenapa waktu itu kita ngeyel dan nekat aja, kakakku itu pun meyakinkan bahwa itu jalannya bagus, dan ternyata ya emang bagus tapi itu hanyalah seperempatnya saja, selebihnya adalah jalan zonk, ancur berantakam tak berbentuk. Mana kami sempet nyasar karena salah mengira nama pantainya.. Jadi harus puter balik yang cukup jauh juga.. Sempat kami sudah frustasi, ingin menyerah kembali ke kota saja, karena waktu itu sudah masuk ke hutan, sepi, kering, gersang dan kami mulai kehabisan perbekalan. Tapi dengan keyakinan, kami melanjutkan perjalanan itu dan sampailah ke pantai yang indah itu.. Pantai dengan pasir yang terlihat seperti berwarna pink jika terkenacahaya, karena pasirnya bercampur dengan serpihan karang merah, cantik, luar biasa perjuangan kami untuk menuju kesana.. Kami beristirahat disana, tapi di sore hari kami memilih untuk pergi meninggalkam tempat itu, meskipun kami sudah ditawari untuk menginap dengan dibuatkan tenda. Sebenarnya kalau aku tidak masalah, tapi aku juga tak akan tega pada temanku itu yang mungkin belum pernah menempuh perjalanan jauh dan harus tidur di tepi pantai begitu. Kami pergi dari sana menuju ke rumah teman ibuku saat kuliah S2. Kami tidur disana, disambut dan disuguhi banyak. Bahkan pulang pun masih dibawai oleh oleh, dan kami pun tak bisa menolak kebaikan orang-orang lombok.
(Bersambung)



