Padahal alangkah lebih baiknya, jika pernikahan itu dilihat seumpama lahan kosong, dimana sepasang manusia yang bernama suaministrri harus menanam apa yanh ingin mereka tunai, membangun apa yang ingin mereka nikmati, secara bersama sama, dengan sepenuh kasih dan cinta.
Jika yang diinginkan adalah kebahagiaan, kebahagiaan tersebut haris ditanam bersama sama, bukan malah saling mengharapkan kebahagiaan dari masing masinh. Jika yang diinginkan adalah masa depan yang lebih baik di dunia dan akhirat, masa depan itu juga harus dibangun bersama sama. Bukan malah saling mengandalkan apalagi saling ketergantungan satu sama lainnya. Begitu juga dengan hal yang lainnya, karena menggenap adalah saling bertanggung jawab.
Dengan melihat pernikahan layaknya lahan kosong, sepasang suami istrri tidak akan terjebak pada taman bunga yang diharapkan, karena mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari taman bunga. Mereka sedang membangun istana, yang di dalamnya ada banyak taman taman bunga.
Maka dari selayaknya proses membangun, tentu tidak sesederhana meninggalkan istana yang sudah jadi. Sepasang suami isteri harus menjadi arsitek terlebih dahulu, akan dijadikan istana yang seperti apsnlshsn kosong yang mereka punys, visi pernikahan seperti spa yang akan mereka bangun. Untuk kemusian, dibuatkan pondasinya g kuat lagi kokooh, berupa komitmen untuk mencapai visi pernikahan yang sudah mereka tetapkan.
Maka selayaknya proses menanam, tentu tidak semusah memetik hasilnya. Lahan kosong tersebut harus dibersihkan sebelum siap untuk ditanam, dibersihkan dari 'ilalang ego' yang selama ini tumbuh membabi buta, untuk ditanami pohon pojon kebahagiaan yang kelak ingin dituai. Tentu tidak bisa sembarangan untuk menentukan pohonnya, sepasang suami isteri harus sepakat terlebih dahulu pohon kebahagiaan apa saja yang akan ditanam, karena lahan kosong itu milik mereka berdua, mereka sama sama bertanggung jawab untuk merawatnya, sampai sisa usia mereka.
Maka selayaknya proses membangun dan menanam, tentu hasilnys tidak bisa langsung dituai. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, pengorbanan yang tidak sedikit, kesabaran yang tanpa batas, sampai kita dan orang orang disekitarnkita, anak cucu kita, bahkan bangsa dan negara kita bisa turut menikmati buah dari visi pernikahan tadi, entah berapa puluh tahun lagi, tapi bukan berati, kita tidak bisa menikmatinya sekarang sekarang. Karena yang bisa dinikmati bukan hanya hasil, tapi juga proses. Proses yang baik, proses yang dinikmati, akan menghantarkan pada hail yang lebih manis. Proses yang tentu saja akan bertemu dengan kesulitan selain kemudahan, kesedihan selain kebahagiaan, kesalahpahaman selain pengertian. Dan hal hal lain yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya, tapi semoga akan mendewasakan pada akhirnya. Proses yang tidak selalu mudah, tapi semoga selalu indah.
***
Kata kata di atas aku ambil dari Buku Genap karya Nazrul Anwar di bab Penutup dari Kamu. Aku suka pesan yang disampaikan. Semoga aku bisa segera menggenap dengan pemahaman pemahaman yang baik, dan kamu pun juga begitu. Aku ingin membangun rumah tangga kita bersama dan menikmati proses proses di dalamnya. Sekarang kita sedang berjuang untuk itu dan semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Aamiin.. Selamat menikmati proses menuju kebahagiaan kita..

