Kisah Sebentar

Assalamu'alaikum...
Jangan lupa bahagia ya 😄

Terakhir posting tahun baru dengan ucapan permintaan maafku ke kamu yg mungkin sudah ku sakiti. Sekarang sudah akhir Februari. Banyak yang bilang ini bulan penuh cinta. Oh well. Maybe I dont think so. Bukan sok pathetic. Ya biasa aja gitu. Semua bulan sama saja. Semuanya indah, semua bulan baik. 

Baru beberapa bulan lalu aku mengenalnya dan mulai mengisi hari-hariku, sebut saja Mr. Girin. Perkenalan kami begitu singkat melalui salah satu sosial media yg terkenal yg berujung sebuah pertemuan di kota kelahiranku. Pertemuan gak terlalu spesial sih, saat itu aku bersama dg adikku dan beberapa temanku, dan dia datang sendiri menemuiku. Malam itu, aku ngobrol dengannya, tak banyak memang, karna dia tipe orang yg diem, dan jika aku yg tak memulainya mungkin dia akan diam terus. Aku pikir mungkin karna itu baru awal bertemu. Tapi ternyata memang orangnya seperti itu.. Pertemuan itu ternyata berlanjut ke pertemuan di hari berikutnya. Kami jalan berdua, sekedar nongkrong dan ngobrol. Malamnya dia mengantarku pulang dan menemui keluargaku. Bukan maksud bagaimana juga, sedikit nekat juga, tapi toh teman2ku yang lain juga pasti aku kenalin ke orang tua, agar orang tuaku juga tau siapa saja temanku. Pendapat Dad soal dia, pandangan pertama begitu menggoda. Dad tertarik. Kalau Mum lebih ngelihat fisik dan banding2in sama aku, agak kezel juga si. Hehe. Esoknya, kami tak bertemu, karna aku ada acara dg Mum. Tapi kami masih chatting. Sorenya, dia ngajak komit. Well
, actually I dont believe with such thing. Semacam trauma juga, apalagi sering lihat kasus temen2 yg bilangnya komit tapi ujung2nya pisah gak jelas gitu. Jujur aku gak suka kayak gitu. Tapi aku juga gak mau sekedar pacaran untuk main2 aja. Ini udah bukan saatnya buat main2.  Aku maunya serius. Dan aku katakan padanya, aku ada batasan waktu, aku pengen nikah dalam 1-2 tahun ini, sedangkan dia masih mau nikah 3-4 tahun. Akhirnya kita kesepakatan, aku mau nunggu sampai 2taunan ini, kalau misal dia gak bisa yasudah. Ntah itu bisa dibilang jadian pacaran atau apalah aku juga gak ngerti. Memang seminggu awal tak ada kata sayang atau sejenisnya. Tp bagiku tak masalah. Gak perlu terlalu mengumbar.
Well, hubungan kita berlanjut, layaknya LDR yg lainnya, tak bertatap muka langsung hanya bertemu via suara. Sedih sih, tapi aku selalu percaya sama dia. Gak ada keraguan sedikitpun dia bakal nyakitin aku terutama dengan menduakanku. Aku dah percaya bgt sama dia. Ya memang dari keluargaku ada yg gak terlalu setuju aku sama dia,sebenere bukan gak setuju si, lebih ke kaget aja kok aku bisa gitu ketemu lewat line doang trs seyakin itu mau serius sama dia. Ya aku ngrasa saat itu dia spesial, aku percaya Allah mempertemukan kami karna satu alasan. 
Awal januari, dia resign dan mulai cari2 kerja. Pertengahan Januari aku ada urusan kerjaan ke kampus sama bos. Aku sempetin waktuku buat ketemu dia dan keluargaku. Waktu itu bosku nawarin dia buat kerja di tempatku kerja. Sebenere aku jg seseorang yg uda komit gak mau punya hubungan satu instansi. Uda kapok jaman SMA masih labil dulu. Tapi setelah pertimbangan2 panjang,okelah. Dia pun sebenere mau, tapi ternyata terkendala di orang tuanya. Memang aku berdoa, jika dia memang jodohku maka dekatkanlah, mudahkanlah dan berkahilah hubungan kami. Tapi kalau memang bukan jodohku dan dia tidak baik untukku, maka jauhkanlah. 
Seiring berjalannya waktu, doaku seperti terjawab sudah. Akhirnya, pertengahan februari ini aku putus sudah berakhir. Dan sampai detik ini pun tak pernah berkomunikasi lagi. Dia menghilang dari peredaran. 
Sebenernya saat putus pun tidak terlalu ada masalah besar, gak ada pertikaian macem2. Tapi mungkin memang kita uda gak bisa lanjutin hubungan ini. Saat itu aku menangisi keegoisanku yg tak mau ditinggal sendiri, aku belum siap dengan status baru jomblo lagi. 😂 tapi ya mau gak mau kudu dihadapin. Ini udah jawaban dari doaku. Knapa perlu protes lagi? Cuma ya nyesek aja, waktu itu aku baca Line balasan keputusan dia saat aku pergi maen ke Uluwatu, aku sendiri di ujung tebing. Awalny aku belum mau baca pesannya, tapi aku penasaran. Akhirnya aku buka, dan saat itu pula deg. Agak kaget juga meskipun uda sebagaian perasaanku mengatakan kalo dia bakal mutusin hubungan ini. Dan saat itu sempet terlintas aku mau lompat di tebing, selesai gitu aja. Tapi aku nggak. Aku sadar aku masih punya Allah, punya keluarga dan temen2 yg support aku. Konyol kl aku mengakhiri itu. Astagfirullah. Kalau aku inget ada selintas pikiran itu aku malu sekali, maluuuu sama diriku bisabisanya terpikir seperti itu. Dan kalau misal aku jadi lompat dan aku sadar pas di tengah2pun aku bisa apa. Hanya menyesali di dunia baka saja.
Sakit memang pas lagi sayang2nya trus harus diudahin gitu aja. Tapi aku plong, aku lega uda tau jawaban dari dia. Sudah cukup. Meskipun aku masih penasaran karna aku merasa ada yg disembunyikan dari dia, tapi aku sudah tak bisa apapa. Biarkan semua itu menjadi tanda tanya buatku saja. Hanya berharap dia bahagia meski tanpaku.
Yg sangat aku sayangkan, dia tak pernah lagi menghubungiku walaupun sekedar sapaan. Kita benar2 sudah jd asing lagi. Dia datang dan pergi dalam waktu yg singkat tapi cukup untuk membuka luka lama yg sudah kututup rapat.

Terimakasih utk kisah sebentar ini. Aku bener2 tak ingin ini terulang lagi, mungkin aku butuh waktu untuk menemukan seseorang yg pantas untukku. I'll wait... 





0 komentar:

Posting Komentar