Suplemen Anti Galau Menuju Pernikahan (Part 1)

Ciyeee ngomongin nikah... ciyee akhirnya 2017 tapi masih galau ngomongin nikah...
Nemu buku Nikah Tokcer nih karya Asrul Right & Nabilah Hurin "Educoach Couple"
pengen sedikit ngereview nih, dari bab I ya, suplemen #1 : Menikahlah dengan Ketakutan..
Loh-loh kok menikah dengan ketakutan sih... heran ya? banyak lho yang ternyata takut untuk menikah, diantaranya dibahas disini ada 5 ketakutan;

  1. Takut diatur. Menikah bukan hanya persoalan ikatan semata, melinkan juga ada ikatan batin yang kuat. boleh aja saling mengatur, tetapi masih dalam koridor yang baik. Artinya menikah bukan menjadikan istri sebagai pesuruh semata sedangkan suami adalah bos. musyawarhkanlah dengan baik. pernikahan itu adalah sistem manajemen tanggung jawab yang baik. jangan rusak semua itu dengan kata takut diatur.
  2. Takut kreativitasnya menurun. Sebenarnya ketakutan ini tidak beralasan. Banyak orang yang semakin melejit potensi dirinya setelah menikah. Tapi ada juga yang potensinya mati total. So, carilah pasangan yang mampu mendukung satu sama lain, dengan begitu kreativitas Anda akan makin meningkat.
  3. Takut tak punya masa depan. Justru dengan menikah Anda punya masa depan. Masa iya Anda rela lihat istri menderita? Rela lihat menderita nantinya? tekanan-tekanan seperti ini yang memaksa Anda untuk berubah. maka dengan cara inilah masa depan Anda akan cerah.
  4. Takut dengan mahar tinggi. Untuk beberapa adat terutama di Indonesia memang masih ada yang memegang budaya bahwa mahar tinggi merupakan suatu prestise bagi keluarga perempuan. Bukan tidak boleh seorang wanita meminta mahar tinggi, ya karena itu adalah hak mereka. jika Anda mampu dan siap menerima tantangan mahar tinggi, mengapa tidak? jika tidak, putuskanlah untuk Beranjak saja. Carilah wanita yang memilih agama Anda.
  5. Takut salah pilih. Anda tidak akan pernah salah pilih, jika Anda memilih karna agamanya. Karena agama itu lebih menjamin Anda memiliki keluarga SAMARA. dari salah satu hadis Rasul mengatakan, pilihlah agamanya. 
Ada tambahan tips dari apa yang telah diungkapkan psikolog klinis, Dr Nafisa Sekandari dan Hosai Mojaddidi
  1. Jangan berharap orang lain berubah.
  2. Tetapkan visi sebelum menikah. Setiap pasangan harus memiliki tujuan yang sama. Lebih baik merencanakan sesuatu yang dianggap menarik dan diwujudkan bersama, daripada mengubah salah satunya. 
Ada beberapa pertanyaan untuk diri sendiri untuk menentukan visi dalam menemukan orang sesuai dengan keinginan:
  • Apakah saya menghargai dan mengagumi orang ini?
  • Hal utama apa yang membuat saya menghargai dan mengagumi dia?
  • Apakah saya percaya orang ini?
  • Apakah saya bisa mengandalkan dirinya?
  • apakah saya harus percaya penilaian orang lain tentang dia?
  • apakah saya harus memercayai apa kata orang lain tentang dia>
  • apakah saya merasa aman dengannya?
  • Apakah secara emosional, saya aman saat bersama dengannya?
  • Apakah saya akan mendapat kekerasan darinya?
  • Apakah saya akan tetap menjadi diri sendiri ketika bersamana?
  • Apakah saya bisa terbuka bersama dia?
  • Apakah saya masih tetap bisa mengeskpresikan diri saar bersama dia?
  • Apakah saya akan merasa damai dan tenang bersamanya? 
3. Terimalah semuanya dengan keikhlasan. Bersabarlah dengannya, maka hidup Anda akan lebih berkualitas. Yakinlah, Allah selalu menyiapkan yang terindah untuk hamba-Nya yang bersyukur dan bersabar.


Nah, nah... sudah mulai ada gambaran kan biar gak takut lagi menikah. yakin aja, menikahlah ^^
atau masih ada yang mengganjal?? tenang,,, masih ada #7 Suplemen lagi yang akan dibahas, tapi untuk kali ini cukup sekian dulu yaaa... Ms Zing lanjut baca dulu, bhayyyy
Dari awalnya Zing, Pejuang LDR, Pecandu Rindu dan Rinai Rindu... 
Itu aku...

Come Back

Welcome 2k17 *\(^.^)/*
sorak sorak dikit lah yaaa...

Maafkan sudah hampir setahun ga buka-buka lagi, dan berpaling ke kesibukan yang lain...

Memang bukan tipe yang terlalu suka nulis, lebih suka baca dan ngedoodling daripada ketik-ketik, sesekali sih okeee... ga bisa kalau suruh telaten one day one writing gitu.. ga kayak kamu, iya kamu yg di pojokan.. dan sekarang saking sibuknya baca tulisanmu pun aku dah gak ada waktu... :p

Banyak, banyaaaak banget malah yang pengen dicritain.. dari tahun-tahun sebelumna aja masih utang tulisan jalan-jalan... apalagi sekarang, makin menumpuk yaa... apalagi perjalanan hidup.. eit eitt...
2017 perjalanan hidupnya mulai berubah.. bakal berubah status, berubah semuanya... semangat hap hap hap.. Bakal banyak cerita lagi..

Harapan-harapan, impian-impian, semoga satu persatu bisa terwujud di tahun ini, Aamiiin..

Impian

Umur Mimpi
Dengan orang yang tepat, impianmu akan menjadi hebat.
Masing-masing kita memiliki impian yang besar. Ada yang kemudian memendamnya karena tidak berani mewujudkannya. Ada yang begitu ingin mewujudkannya tapi belum tahu caranya. Ada yang sedang berusaha mewujudkannya sekalipun itu seumur hidup menempuhnya.
Umur Impian itu bisa jadi pendek. Ketika berbenturan pada situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk kita mewujudkannya. Terkungkung oleh jam kerja, harus berpindah kota, harus mengalah karena orang tua, harus lebih banyak bicara realita, dan bertemu dengan orang yang tidak bisa diajak untuk mewujudkannya.
Betapa beruntungnya orang yang memiliki kesempatan untuk mewujudkan impiannya, memiliki dukungan dari orang di sekitarnya, dan bertemu dengan partner yang tepat untuk ikut membangun impiannya sejak awal. Sejak impian masih berupa kata-kata, belum berupa tindakan.
Sejak kekhawatiran itu bisa dibagi, didiskusikan jalan keluarnya, dicarikan celahnya, dikuatkan kepercayaannya, didampingi kala katakutannya. Impian itu mungkin besar, tapi kita tahu bahwa ada Allah Yang Maha Besar. Karena segala sesuatunya bisa menjadi mungkin, sepanjang seseorang berusaha mengubah takdir mimpinya.
Impian itu akan tetap menjadi impian bila tidak segera bangun untuk mewujudkannya. Hari ini, hari ketika usia kita masih muda. Di mana kita tengah berada dalam persimpangan hidup, Quater Life Crisis. Kita tengah diuji pula sejauh mana kita akan memperjuangkan impian kita. Bahkan idealisme kita ketika dulu duduk di bangku kuliah pun tengah diuji. Di tengah gempuran tuntutan hidup yang semakin duniawi, kita harus membuat keputusan. Keputusan penting yang berdampak pada impian kita. Akankah impian mati atau terus hidup.


Di draft ada tulisan ini, lupa waktu itu ngutip dari tulisan siapa, yg jelas aku suka...
Kita yang tengah diuji dalam mencapai impian kita..
Kita yang mempunyai impian besar dan kita yang masih bimbang dalam melangkah...
Berharap impian kita bisa kita wujudkan bersama...

Merelakanmu

Selama bulan Maret kemarin aku gak ada nulis diblog ya... Kangen nulis jadinya.. Padahal juga gak sibuk, wongan pengangguran dari akhir Februari, tapi ya gitu, akses internet terbatas dan emang rasanya males ngetik, padahal di otak udah bersliweran kata... Kata kata curhat sih tepatnya... Hha...

Sudah bulan April...
Kamu kudu tau, aku nulis ini masih ngerasa sedih, tapi uda lebih lega n mendingan..
Aku syok memang, semendadak itu kamu bilang 3 hari lagi kamu uda berangkat pulang ke kampung halamanmu itu.. Aku memang sudah tahu cepat ato lambat kamu bakal balik kesana, tapi aku gak menyangka secepet ini kamu pergi ninggalin aku sendiri.. Terakhir ketemu memang baru kemarin sebelum aku pulang ke Jogja.. Pertemuan sekilas yang sampe aku ga menghitungnya sebagai sebuah pertemuan, tapi ya salah juga, karna bagaimanapun kita sudah bertemu waktu itu walo hanya untuk satu jam saja.. Aku ngerasa belum siap aja, aku yang terlalu kebawa perasaan, uda gak bisa mikir jernih.. Toh pada akhirnya juga sekarang aku mulai menyadari, bahwa sebenarnya kita pun juga jarang bertemu, kita gak seperti pasangan-pasangan lainnya... Tapi aku tahu, kamu selama ini dah berusaha sebaik mungkin buat tetep ngejaga komunikasi kita dengan selalu hubungi aku di waktu2 luangmu.. Aku yang salah, yang masih ngerasa itu kurang, dan menuntut lebih.. 
Coba flash back, aku menyadari, sebelum ada kamu, iya aku menjalani hidupku seperti biasa.. Tanpa kamu, aku sudah berusaha untuk bisa mandiri, mengerjakan banyak hal sendiri, aku sudah terbiasa dengan itu semua.. Ya mungkin dulu ada temen di sekitarku yang bisa menemaniku kemana aku mau, ada sodara yang bisa diajak jalan, atopun keluargaku sendiri yang pasti ada untukku.. Dimana kamu sebelumnya?? Tidak banyak pengaruhmu saat itu... Kenapa sekarang aku berpikir terasa begitu berat kalau kamu pulang? Padahal apa bedanya dengan dulu? Aku mungkin udah ngejalanin masa sendiriku 5 tahun terakhir.. Aku merasakan pahitnya sendiri dan sakit hati sebelumnya dan aku masih bisa berdiri dan bertahan.. Sekarang, seharusnya aku lebih kuat.. Yang berbeda hanya jarak yang memisahkan kita, kamu tetap sama, masih bisa menghubungiku di sela2 waktumu.. Mungkin kita tak bisa bertemu sesering beberapa bulan terakhir ini, tapi toh dunia sudah canggih sekarang, kamu hanya butuh meluangkan waktu dan sedikit kuota bisa telepon, chat atopun vidcal..
 Hmmm... Apa yg mesti digalauin lagi?. 
Sudahlah, bagaimanapun aku kudu kuat! Sekarang aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa aku kudu ngejalanin hidupku seperti biasa tanpa kamu.. Bahkan ada atau tidak ada kamu, hidupku harus berjalan, waktu terus berputar, dan aku harus menyibukkan diri, melakukan hal hal positif.. 
Aku tahu semua ini buat kebaikan kita bersama di masa depan. 
Aku mempercayai, ketika kamu kembali lagi, kamu tak akan pergi.. ^^ semoga aku bisa kuat menjalaninya.. Semoga jarak ini membuat kita belajar banyak hal..
Terima kasih....

Bekasi...

Bekasi.. adalah kota yang ku tempati selama 6 bulan terakhir ini, sebenarnya lebih tepatnya aku berada di dalam kawasan industri di daerah Cibitung, Bekasi.. Sudah cukup waktuku untuk bertahan disini, dan kuputuskan untuk pergi dari sini.
Banyak yang bilang Bekasi itu seperti planet yang berbeda dengan bumi, entah ini yang mulai siapa, karna mungkin rasanya asing, bisa dibilang kota nggak, desa juga nggak.. trus ada yg bilang juga kalau masuk ke Bekasi mah kudu pake passport hahaha.. juga, kalau dari arah Jakarta naik kendaraan dan tiba-tiba kerasa jalanannya bergelombang, berarti kamu uda mulai masuk planet bekasi.. haha unik yaa apa yang orang-orang bilang...
Kalau apa yang aku rasa, ya karna aku tinggal di dalam kawasan, keluar main jarang kecuali kalau hari sabtu/minggu dan itu pun malah sekalian ke Jakarta. Jadi aku gak terlalu merasakan bagaimana Bekasi itu.. ya memang kalau aku mau ke Jakarta itu butuh waktu yang cukup lama dan kudu sabar lah yaa.. dan kalau uda pulang malam agak ngeri juga sih.. tapi sejauh ini masih baik-baik aja kok..
Tulisan ini bukan mau menjelek-jelekkan Bekasi kok..
Enam bulan rasanya benar-benar sudah cukup aku merasakan tinggal disini,, sudah cukup melengkapi pengalaman hidupku... Kamu belum lengkap melakukan perjalanan kalau belum coba tinggal di Bekasi.. Coba deh..

Merasa Bersalah

Rasa bersalah itu mulai menghinggapi diriku...
Aku merasa bersalah padamu..
Sungguh, aku ingin meminta maaf sebanyak-banyaknya, dan mungkin kamu akan terbengong karna tak tahu kenapa aku begini...
maaf.. aku belum bisa menjelaskannya..

aaaa antara mau berterus terang dengan tidak bercerita, sulit ku putuskan.. ah sudahlah, anggap saja tidak terjadi apa apa,  tapi aku merasa mengganjal kalau tidak bercerita.. padahal toh mungkin kamu bakal biasa aja menanggapinya haha, akunya yg gampang baper..